BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 29 April 2009

Menimbun (menenggelamkan) lokasi semburan lumpur panas

Untuk mengurangi meruncingnya kubu pro-kontra pembuangan lumpur memerlukan lebih banyak lagi alternatif-alternatif usaha untuk penanganan material yang sudah berada dipermukaan. Sehingga, tidak hanya berkonsentrasi pada penanggulangan banjir lumpur ini yg diusahakan oleh tim bawah permukaan. Kerna hasilnya masih belum bisa diharapkan tingkat kesuksesannya.

Wacana membuang lumpur merupakan sebuah tindakan mudah untuk segera keluar dari problem di daerah bencana. Namun membuang ke tempat lain merupakan salah satu langkah ‘penyebaran’ permasalahan ditempat pembuangan.

Berikut salah satu alternatif lain dengan menimbun/menenggelamkan daerah sekitar lokasi semburan lumpur panas ini dengan material lumpur yang keluar ini (self burried).

Mud Volcano yang tidak bisa ditawar

Tentunya sudah banyak yang menyadari fenomena alam apa yang terjadi di lokasi semburan Lumpur Sidoarjo ini. Saat ini diduga sebuah kemungkinan aktifitas pengeboran yang berlanjut menjadi sebuah proses alami semburan lumpur bawah tanah yang sering disebut sebagai Gunung Lumpur atau Mud Volcano (MV). Sama seperti yang sudah sangat sering dijelaskan sebelumnya oleh para ahli geologi sebelumnya dibeberapa media termasuk di Kompas.

Fenomena gunung lumpur (mud volcano) ini banyak sekali di dunia demikian juga diketemukan daerah Jawa Timur. Ketika gunung lumpur ini berada jauh dari pemukiman dan jauh dari aktifitas manusia maka kejadian ini merupakan sebuah fenomena menarik yg sering menjadi obyek wisata dan mendatangkan devisa, namun ketika terjadi dan muncul di tengah-tengah kawasan industri serta kawasan pemukiman yang padat penduduk akan sangat menganggu dan bahkan akan mendatangkan bahaya. Demikian juga dengan banjir lumpur di Sidoarjo ini yg merupakan masa awal lahirnya sebuah Gunung Lumpur.

Evolusi gunung lumpur

Tiga model evolusi gunung lumpur akan dijabarkan disini. Model-model evolusi gunung lumpur ini semua menduga patahan sebagai jalan keluar dari bawah permukaan. Sama seperti yang diduga terjadi di Sidoarjo ini. Ketiga model evolusi gunung lumpur ini dikembangkan oleh Kopf et al. [1998], Van Rensbergen et al. [1999] dan Slack et al. [1998].

Gambar 1. Model MV dari Kopf [1998]

Menurut Kopf et al. [1998] dan Slack [1998] ada tiga stadia utama dalam evolusi gunung lumpur ini. Model-model evolusi gunung lumpur ini kesemuanya model yg terjadi di laut, terutama yang sering dijumpai di laut dalam. Sebelumnya perhatikan skala 1 Km pada gambar 1 ini, ukuran ini dapat dipakai nantinya dalam memperkirakan besarnya ukuran gunung lumpur yang bakal terjadi dan perkiraan amblesan.

Gambar 2. Model MV dari Slack et al [1998]

1. Fase eruptif

Pada fase awal ini terjadi pelepasan tenaga yg cukup kuat. Sifat erupsi yang terlihat pada fase ini adalah fase pelepasan tekanan yg sangat dominan. Fase awal ini akan sangat banyak mengeluarkan material terutama cairan (air). Air serta gas merupakan material yg paling mudah berpindah tempat. Kedua jenis fluida ini akan keluar bersama-sama dengan gerusan dinding lubang tempat keluarnya lumpur.

Pada fase ini material yg terbentuk sering disebut sebagai “mud breccia” (breksi lumpur).

Fase awal ini di Sidoarjo terjadi ketika sumber lumpur mulai menembus permukaan, yg diperkirakan karena usikan pengeboran yg melewati zona rekahan.

2. Fase longsoran lumpur dan semburan uap panas (hotspring)

Model yg dipergunakan kedua peneliti gunung lumpur diatas adalah gunung lumpur dibawah air (di dasar laut). Sehingga hanya gundukan material lumpur saja yang tersisa dan teramati sebagai catatan geologi. Menurut modelnya Kopf, fase kedua merupakan fase setelah pembentukan gundukan. dimana pada fase ini gundukan ini sering berasosiasi dengan endapan laut (hemipelagic).

Menurut Kopf fase kedua ini diikuti keluarnya fluida air yg sering berasosiasi dengan semburan uap panas. Hal ini terjadi karena proses liquefaksi serta hilangnya daya dukung butiran penyusun batuan. Seolah-olah tanah diremas dan mengeluarkan cairan yg ada dalam pori-porinya (air).

3. Fase amblesan (subsidence)

Menurut model yg dikembangkan Kopf dan Slack fase akhir yang menyebabkan amblesan ini terjadi setelah hilangnya material ke permukaan. Besarnya amblesan diperkirakan berdiameter sekitar 5-7 Km dengan kedalaman hingga 100-200 meter.

Fase-fase ini sangat mungkin tidak hanya terjadi sekali saja, namun merupakan proses yg berkesinambungan dan berulang-ulang. Hal ini disebabkan karena proses kesetimbangan alam akan saling melakukan ‘adjustment‘. Proses erupsi, semburan dan amblesan terjadi secara episodik berulang-ulang. Gambar 3 dibawah menunjukkan bagaimana proses ini akan berkesinambungan membentuk lapisan-lapisan Gunung Lumpur.

Model ketiga dibawah ini juga menggambarkan bagaimana hubungan antara konfigurasi bawah permukaan dengan patahan (rekahan) yang ada. model Slack dan model dibawah ini menunjukkan bahwa lokasi penurunan (subsidence) tidak selalutepat dibawah lokasi keluarnya lumpur ini dipermukaan.

Gambar 3. Model evolusi Gunung Lumpur dari Van Rensbergen et al. [1999]

Menimbun (menenggelamkan) daerah bencana banjir lumpur

Yang keluar dari dalam tanah di daerah Sidoarjo ini saat ini berupa campuran air (70%) dan lempung (30%). kedua jenis material ini air & lempung bisa saja dibuang bersama-sama atau bisa juga dipisahkan. Kali ini kita konsentrasikan dengan 30% material lempungnya.

Seperti yg digambarkan dalam model evolusi gunung lumpur ini, pada fase pertama kedua dan ketiga akan selalu mengeluarkan material solid. Pada fase ketiga akan terjadi penurunan (amblesan) lokasi amblesan ini tidak selalu diatas gundukan lumpur, namun akan sangat tergantung dari konfigurasi patahan (rekahan) yang ada didaerah tersebut. Sehingga sangat diperlukan pemodelan bawah permukaan untuk mengantisipasi dimana lokasi yang akan ‘diamankan’.

‘Pengamanan’ atau melokalisir dampak ini sangat penting. Salah satunya dengan membatasi melebarnya area bencana karena menyebarnya lumpur ini. Namun sekali lagi harus diingat, cara yg terungkap di tulisan ini hanya berkonsentrasi untuk penangan solidnya atau lempungnya saja. Air yg 70% juga harus difikirkan juga walaupun bisa saja terpisah baik pembuangan atau proses treatment-nya. Saya kira air ini dapat dibuang saja, sedang lempungnya dipertahankan dikelola diarea bencana.

Secara sederhana saya menggambarkan fase-fase penimbunan dan tahapan melokalisir penyebaran lumpur. Perlu dilakukan pengamatan berkesinambungan dalam menentukan lokasi bendung-bendung ini. bagaimana konstruksi bendungan ini tentunya kawan-kawan dari civil engineering akan dengan mudah melakukannya.

Yang perlu diketahui serta dilakukan saat ini adalah:

  • Pengukuran seberapa besar debit lumpur beserta airnya.
    Debit lumpur ini sebaiknya dikuantifikasi dengan tepat karena angka-angka ini akan menjadi dasar desain pembuatan serta konstruksi (pembangunan) bendungan, dan penanganan fluidanya.
  • Dimana lokasi amblesan yg sudah terjadi.
    Perlu juga dilakukan pengukuran serta pemodelan geologi bawah permukaan. Untuk memperkirakan penurunan selanjutnya.
  • Seberapa besar penurunannya dan pertubuhannya.
    Kuantifikasi dengan angka sangat diperlukan baik
  • Komposisi fisika-kimia dan mineralogis dari material yg keluar dari lubang lumpur baik fluida (air dan gas) dan solid (lempung, pasir dan lainnya).

Keuntungan menimbun (menenggelamkan) lokasi semburan. Tentunya akan ada manfaat yg dapat diambil apabila skenario penenggelaman (penimbunan) daerah lokasi ini. Keuntungan ini dapat dibagi menjadi :

  • Saat kejadian (saat ini)
    • Melokalisir daerah bencana (melokalisir permasalahan)
      Disini sangat jelas akan mempersempit permasalahan yg ditimbulkan. Potensial konflik akan lebih mudah dikendalikan
    • Mengurangi beban laut
      Membuang air saja di laut akan lebih mudah diterima ahli-ahli lingkungan laut serta masyarakat tepi pantai. Bukti adany ikan yg hidup di kolam penampungan sudah menunjukkan bahwa air ini ‘aman’. Pembuangan solid (lempung) di laut lebih sulit dimodelkan karena ada fase pengendapan cukup lama yg apabila dicanpur dengan koagulan sama saja menambahkan bahan kimia yg pasti juga akan memilki sifat pencemar.
    • Dampak lebih “terukur”.
      Karena semua bersifat konstruksi bangunan (civil engineering approach) maka dampak fisik akan lebih jelas terukur dan teramati. Konflik selama ini lebih banyak bersifat non fisis (biologis khemis) yg lebih susah diselesaikan.
    • Dapat dilakukan bertahap
      Karena masih belum diketahui pasti perilaki (lokasi amblesan dll) maka akan sangat mungkin disesuaikan dengan kondisi keluarnya lumpur serta kondisi permukaan tahap demi tahap.
  • Masa konstruksi
    • Memanfaatkan material menjadi bahan komoditi
      Saat ini lumpur ini masih diangap sebagai bahan yg harus dibuang. Namun ada kalanya nanti dapat diketahui manfaatnya. Sehingga penimbunan bisa dikurangi seandainya bahan yg akan dibuang ini dijadikan bahan komoditi yg memilki nilai ekonomi.
    • Kemungkinan skenario lain masih sangat terbuka
      Dengan belum diketahui kejadian selanjutnya maka masih terbuka kemungkinan-kemungkinan lain karena menunggu pengukuran serta analisa. Ada waktu untuk melakukan studi apabila terpaksa dibuang ke laut.

  • Pasca konstruksi
    • Dapat dipakai sebagai monumen pembelajaran
    • Dapat dimanfaatkan sebagai lokasi wisata alam

Kelemahan menimbun (menenggelamkan) lokasi semburan :
Selain memilki kelebihan-kelebihan diatas tentunya juga ada kelemahan-kelemahan

  • Kehilangan potensial serta fasilitas yg sudah ada di permukaan
    Dampak hilangnya potensi serta fasum-fasos akan lebih jelas dan kasat mata. Potensial konflik lebih nyata.
  • Dampak langsung terlihat kemungkinan mengagetkan (shocking). Menyaksikan rumah yg terkubur, gedung yang tenggelam, tempat yg menyimpan kenangan bagi penduduk sekitar.
  • Biaya mahal harus dibayarkan (disiapkan) di depan
    karena sifatnya pembuatan konstruksi (civil construction), maka perlu ada dana khusus yg harus dianggarkan dimuka. Dalam kondisi keenomian saat ini perlu difikirkan sumber pendanaannya.
Perlu diketahui bahwa penenggelaman (penimbunan) ini hanya memanfaatkan material solid yang hanya 30% dari volume material yg keluar. Air yang merupakan 70% bagian ini harus difikirkan untuk ditangani tersediri maupun bersama-sama. Namun cara yang paling praktis adalah, memisahkan air dengan lempung dengan pengendapan (pengaliran berjenjang) dan membuang air setelah dilakukan treatment. Air hasil pemisahan ini semestinya dapat dibuang langsung juga tanpa treatmen seandainya tidakada zat yg bersifat toxic

0 komentar: